Podcast RRI Pro 2 Pontianak: Dosen Universitas OSO Beberkan Alasan Pendidikan Tinggi Kian Penting di Era AI

UNIVERSITAS OSO — Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat akibat perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), pendidikan tinggi dinilai semakin penting bagi anak muda untuk membangun kompetensi sekaligus memperluas peluang karier. Persoalan tersebut menjadi bahasan utama dalam program SPADA TOSERBA RRI Pro 2 Pontianak yang menghadirkan dua dosen Universitas OSO, Dodi, S.Pd., M.Pd. dan Hence Made Aryasa, S.E., M.M., dalam dialog bertema “Pentingnya Pendidikan Tinggi Bagi Anak Muda”, Senin (12/10/2026).

Dodi menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman, tetapi juga sebagai tantangan yang mendorong anak muda untuk memiliki kompetensi yang lebih spesifik dan relevan.

“Bangku perkuliahan hadir untuk menjawab tantangan zaman. Mahasiswa perlu memiliki keahlian yang spesifik agar mampu beradaptasi dengan perubahan dunia kerja dan tidak mudah tergantikan oleh otomatisasi,” ujar Dodi dalam dialog tersebut.

Pandangan itu sejalan dengan arah pengembangan pendidikan tinggi yang kini semakin menekankan relevansi kompetensi lulusan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 2026 juga menekankan pentingnya perguruan tinggi menjadi institusi yang adaptif serta mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan.

Hence Made Aryasa melihat pendidikan tinggi dari dua sisi. Dari sisi internal, proses perkuliahan membantu mahasiswa membangun pola pikir yang lebih sistematis, kritis, dan matang dalam mengambil keputusan. Sementara dari sisi eksternal, kualifikasi pendidikan juga semakin banyak dipertimbangkan dalam memasuki berbagai bidang pekerjaan profesional.

“Pendidikan tinggi bukan hanya tentang mendapatkan gelar. Ada proses membentuk cara berpikir, memperluas wawasan, sekaligus mempersiapkan seseorang menghadapi tuntutan profesional,” kata Made.

Namun, akses terhadap pendidikan tinggi masih menghadapi tantangan, khususnya dari sisi ekonomi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi Indonesia pada 2025 mencapai 32,89 persen. Di Kalimantan Barat, angkanya berada pada 23,99 persen, masih di bawah rata-rata nasional. APK tersebut menggunakan kelompok usia 19–23 tahun sebagai kelompok umur perguruan tinggi.

Data tersebut memperlihatkan bahwa keputusan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tidak selalu sederhana. Bagi sebagian anak muda, persoalannya bukan semata-mata keinginan untuk kuliah, melainkan bagaimana membagi waktu, biaya, pekerjaan, dan tanggung jawab keluarga.

Made mengakui persoalan ekonomi menjadi salah satu dilema yang dapat membuat mahasiswa kesulitan menyelesaikan pendidikan. Sebagian mahasiswa harus bekerja untuk membantu kebutuhan keluarga, sementara pada saat yang sama mereka tetap harus memenuhi tuntutan akademik.

Kondisi inilah yang membuat pilihan model perkuliahan yang lebih fleksibel menjadi semakin relevan.

Kelas Karyawan, Alternatif bagi Mereka yang Harus Bekerja

Melihat kebutuhan tersebut, Universitas OSO menghadirkan Kelas Karyawan sebagai salah satu pilihan bagi masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan sarjana tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama.

Program tersebut dirancang untuk memberikan ruang bagi mahasiswa yang sudah bekerja agar tetap dapat menjalani pendidikan. Salah satu fleksibilitas yang ditawarkan adalah sistem perkuliahan hybrid dengan kombinasi pembelajaran daring dan luring.

Menurut Made, pendekatan tersebut memungkinkan mahasiswa menyesuaikan aktivitas akademik dengan rutinitas pekerjaan. Universitas OSO juga menyediakan skema pembayaran uang semester secara bertahap hingga tiga kali untuk membantu mahasiswa mengelola beban pembiayaan pendidikan.

Pilihan tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjawab persoalan yang sering muncul ketika seseorang ingin kembali melanjutkan pendidikan, tetapi tidak memungkinkan untuk sepenuhnya meninggalkan pekerjaan.

Dengan kata lain, kuliah tidak harus selalu berarti memilih antara pekerjaan atau pendidikan. Bagi mereka yang memiliki tanggung jawab profesional, keduanya dapat diupayakan berjalan secara bersamaan dengan pengaturan waktu yang tepat.

Baca Juga: Melalui Program Titik Kumpul Saintek SEMESTA, Universitas OSO Ajak 55 Siswa Pontianak Berinovasi Mengolah Air Gambut dengan COCOFILTER

Fleksibilitas perkuliahan juga tidak berarti mengurangi substansi akademik. Dodi menegaskan bahwa mahasiswa Kelas Karyawan tetap memperoleh beban pembelajaran sesuai ketentuan akademik, termasuk kesempatan mengikuti diskusi secara langsung di lingkungan kampus.

“Fleksibilitas jadwal bukan berarti mengurangi esensi pendidikan. Bobot SKS tetap diberikan secara utuh dan mahasiswa tetap memiliki ruang untuk berdiskusi secara langsung di kampus,” jelas Dodi.

Hal tersebut menjadi penting karena fleksibilitas pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kemudahan mengikuti jadwal. Mahasiswa tetap membutuhkan interaksi akademik, proses berpikir kritis, diskusi, dan pendampingan agar pengalaman belajar tidak sekadar berorientasi pada penyelesaian administrasi pendidikan.

Di sisi lain, Universitas OSO sendiri memiliki ekosistem akademik yang mencakup kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat. Data SINTA mencatat Universitas OSO memiliki aktivitas penelitian dan publikasi dosen yang mencakup berbagai bidang, mulai dari lingkungan, teknologi, ekonomi, hingga sosial dan hukum.

Persoalan pendidikan tinggi ternyata tidak berhenti pada kemampuan seseorang untuk masuk kuliah. Tantangan lain muncul ketika mahasiswa telah berada di semester akhir, terutama saat harus menyelesaikan skripsi.

Dodi mengatakan, sebagian mahasiswa justru kehilangan motivasi ketika berhadapan dengan revisi, proses bimbingan yang panjang, atau kejenuhan terhadap rutinitas akademik. Tidak sedikit yang akhirnya berhenti berkomunikasi dengan dosen pembimbing.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak membiarkan persoalan kecil di tahap akhir menghapus perjuangan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.

“Saran dari saya bagi mahasiswa yang sedang berjuang melawan rasa malas, jangan putus komunikasi dengan dosen pembimbing. Jangan biarkan hanya gara-gara sisa tiga atau empat SKS yang terakhir ini, perjuangan mahasiswa dari awal sampai akhir itu kandas. Jika ada kendala, datang ke kampus dan komunikasikan,” kata Dodi.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menyelesaikan pendidikan tinggi bukan hanya persoalan kemampuan akademik. Konsistensi, komunikasi, kemampuan mengatur waktu, dan keberanian meminta bantuan ketika menghadapi kendala juga menjadi bagian penting dari perjalanan seorang mahasiswa.

Di penghujung dialog, Dodi dan Made berharap kebijakan pendidikan dapat memiliki arah yang lebih konsisten sehingga perguruan tinggi dan tenaga pendidik di lapangan dapat melakukan adaptasi secara optimal.

Keduanya juga menekankan pentingnya hubungan yang lebih kuat antara kurikulum perguruan tinggi dan kebutuhan dunia kerja. Menurut mereka, pendidikan tinggi harus terus bergerak mengikuti perubahan sehingga kompetensi yang diperoleh mahasiswa memiliki relevansi ketika mereka memasuki dunia profesional.

Bagi anak muda, pesan dari dialog tersebut cukup sederhana: melanjutkan pendidikan tidak harus menunggu keadaan menjadi sempurna. Ada tantangan biaya, pekerjaan, waktu, hingga kejenuhan akademik, tetapi berbagai pilihan pendidikan yang lebih fleksibel dapat menjadi jalan untuk tetap melanjutkan proses belajar.

Di tengah tuntutan dunia kerja yang semakin dinamis, pilihan seperti Kelas Karyawan di Universitas OSO menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang ingin meningkatkan kualifikasi pendidikan sambil tetap mempertahankan aktivitas profesionalnya.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukan sekadar tentang memperoleh ijazah. Lebih dari itu, pendidikan menjadi proses untuk membangun cara berpikir, kompetensi, dan kesiapan menghadapi perubahan yang terus bergera. (Humas)

Leave a Reply