Melalui Program Titik Kumpul Saintek SEMESTA, Universitas OSO Ajak 55 Siswa Pontianak Berinovasi Mengolah Air Gambut dengan COCOFILTER

Pembelajaran kimia tidak lagi hanya berlangsung di ruang kelas. Melalui program COCOFILTER, puluhan siswa SMAN 2 dan SMAN 11 Pontianak memperoleh pengalaman menjadi peneliti muda dengan merancang, membuat, dan menguji alat penyaring air gambut menggunakan bahan-bahan sederhana serta karbon aktif berbasis ampas kelapa.

Kegiatan bertajuk “Penerapan Project-Based Learning melalui Proyek COCOFILTER: Pembuatan Mini Filter Air Gambut Berbasis Karbon Aktif Ampas Kelapa bagi Siswa SMAN 2 dan SMAN 11 Pontianak” ini dilaksanakan oleh tim Program Studi Kimia, Fakultas IPA dan Kelautan (FIPAK), Universitas OSO, pada 8 Oktober 2026 di SMAN 11 Pontianak dan 9 Oktober 2026 di SMAN 2 Pontianak.

Sebanyak 55 siswa dari SMAN 2 dan SMAN 11 Pontianak antusias mengikuti kegiatan COCOFILTER yang diselenggarakan Universitas OSO melalui Program Titik Kumpul Saintek dalam ekosistem SEMESTA (Semesta Sains dan Teknologi). Dari dua sekolah terlibat dalam kegiatan tersebut, terdiri atas 30 siswa SMAN 2 Pontianak dan 25 siswa SMAN 11 Pontianak. Peserta dibagi menjadi 10 kelompok, masing-masing lima kelompok dari setiap sekolah. Setiap kelompok ditantang mengembangkan inovasi mini filter air gambut berdasarkan konsep ilmiah yang telah dipelajari. Kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran berbasis proyek yang mempertemukan siswa, guru, dosen, dan mahasiswa untuk mengembangkan inovasi sederhana dalam pengolahan air gambut.

Kegiatan diawali dengan pretest untuk mengukur pemahaman awal siswa mengenai kualitas air, prinsip filtrasi, dan pemanfaatan material adsorben. Selanjutnya, peserta mengikuti praktikum pengujian kualitas air gambut dan merancang sistem filtrasi secara berkelompok.

Dalam praktikum tersebut, siswa terlebih dahulu melakukan pengukuran kadar besi (Fe) pada sampel air gambut sebelum proses filtrasi. Pengukuran ini menjadi data awal untuk mengevaluasi kemampuan alat penyaring yang mereka kembangkan.

Setiap kelompok kemudian merangkai dua jenis filter, yaitu filter acuan dan filter inovasi. Filter acuan digunakan sebagai pembanding, sedangkan filter inovasi dirancang berdasarkan kreativitas serta pemahaman siswa terhadap karakteristik berbagai material penyaring.

Beragam bahan digunakan dalam pengembangan filter inovasi, mulai dari kapas dakron, ijuk, zeolit, pasir, kerikil, ferolit, hingga kombinasi material lainnya. Para siswa diberikan kesempatan untuk memodifikasi massa bahan, jumlah lapisan, serta susunan media filtrasi guna menghasilkan rancangan yang berpotensi meningkatkan kemampuan penyisihan zat pencemar.

Menariknya, setiap kelompok menghasilkan rancangan filter inovasi yang berbeda. Ada kelompok yang mengombinasikan beberapa material, mengubah ketebalan lapisan, hingga menyusun media berdasarkan karakteristik fisik dan fungsi masing-masing bahan.

Setelah proses perakitan, siswa menguji air hasil penyaringan dari kedua filter dengan melakukan pengukuran kadar Fe secara duplo, yaitu dua kali pengukuran untuk setiap jenis filter. Hasil pengujian kemudian dibandingkan dengan kadar Fe awal untuk mengevaluasi kinerja filter acuan dan inovasi.

Melalui pendekatan Project-Based Learning (PjBL), peserta tidak hanya mengikuti instruksi praktikum, tetapi juga belajar merumuskan ide, mengembangkan rancangan, mengumpulkan data, membandingkan hasil eksperimen, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti ilmiah.

Pengalaman Baru yang Membangkitkan Antusiasme Siswa

Suasana praktikum berlangsung penuh antusiasme. Para siswa aktif berdiskusi, menyusun lapisan media penyaring, melakukan pengukuran, serta membandingkan rancangan filter yang mereka kembangkan bersama anggota kelompok.

Bagi sebagian peserta, kegiatan ini menjadi pengalaman baru karena memberikan kesempatan untuk melakukan pengujian kualitas air menggunakan pendekatan eksperimen yang lebih mendalam dibandingkan praktikum yang biasa mereka ikuti di sekolah.

Salah seorang siswa SMAN 11 Pontianak, Avent, mengungkapkan bahwa kegiatan COCOFILTER memberikan pengalaman pertamanya dalam melakukan pengujian kadar zat dalam air.

Menurut Avent, praktikum yang sebelumnya dilakukan di sekolah umumnya masih bersifat sederhana. Melalui program ini, ia memperoleh kesempatan untuk mencoba pengukuran kualitas air sekaligus mengembangkan alat filtrasi bersama teman-temannya.

Avent juga menunjukkan optimisme terhadap hasil proyek kelompoknya. Ia berharap inovasi filter yang dikembangkan dapat menjadi salah satu karya terbaik dalam kegiatan showcase COCOFILTER yang direncanakan berlangsung pada November 2026 di Universitas OSO.

Antusiasme tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran berbasis proyek dapat memberikan pengalaman belajar yang menarik sekaligus mendekatkan siswa pada penerapan ilmu kimia dalam kehidupan sehari-hari.

Mengembangkan Jiwa Peneliti Muda

Program COCOFILTER tidak semata-mata berorientasi pada pembuatan alat penyaring air, tetapi juga dirancang untuk memperkenalkan proses penelitian ilmiah kepada siswa sekolah menengah.

Permasalahan air gambut dipilih karena relevan dengan kondisi lingkungan Kalimantan Barat. Karakteristik air gambut yang umumnya berwarna kecokelatan, bersifat asam, dan dapat mengandung besi menjadikannya objek pembelajaran yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, siswa didorong untuk memahami bahwa bahan sederhana dan limbah organik, termasuk ampas kelapa yang dapat diolah menjadi karbon aktif, memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi material pengolahan air.

Selain melakukan praktikum, peserta juga mengikuti posttest untuk mengevaluasi pemahaman setelah kegiatan serta mengisi survei kepuasan sebagai bahan evaluasi pelaksanaan program.

Rangkaian pembelajaran tersebut diharapkan dapat meningkatkan literasi sains, keterampilan eksperimen, kreativitas, kerja sama tim, dan kemampuan berpikir kritis siswa.

Mahasiswa Kimia Universitas OSO Turut Terlibat

Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa aktif Program Studi Kimia Universitas OSO angkatan 2024 dan 2025 yang turut membantu mendampingi proses praktikum.

Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam membangun kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah. Selain membantu siswa memahami prosedur pengujian dan perakitan filter, mahasiswa juga memperoleh pengalaman dalam mendampingi pembelajaran sains dan mengomunikasikan konsep kimia secara langsung.

Program yang melibatkan dosen, mahasiswa, guru, dan siswa ini sekaligus menjadi sarana memperkenalkan penerapan ilmu kimia dalam menjawab persoalan lingkungan di masyarakat.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan pembelajaran, tim pelaksana Universitas OSO juga telah menyerahkan perangkat COCOFILTER kepada kedua sekolah. Serah terima dilakukan di SMAN 11 Pontianak pada 8 Oktober 2026 dan SMAN 2 Pontianak pada 9 Oktober 2026.

Baca Juga: Perkuat Tata Kelola dan Mutu Akademik, UNOSO Gelar External Benchmarking ke UMP

Perangkat tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pihak sekolah sebagai media pembelajaran praktikum dan pengembangan kegiatan sains selanjutnya.

Sepuluh Tim Bersiap Menuju Showcase di Universitas OSO

Pelaksanaan praktikum di kedua sekolah bukanlah akhir dari rangkaian kegiatan COCOFILTER.

Sebanyak 10 kelompok siswa selanjutnya akan mempersiapkan hasil penelitian mini mereka untuk dipresentasikan dalam kegiatan showcase yang direncanakan digelar pada November 2026 di Universitas OSO.

Pada kegiatan puncak tersebut, setiap kelompok akan mempresentasikan poster ilmiah yang memuat rancangan filter, variasi material, data hasil pengukuran, serta analisis perbandingan kinerja filter acuan dan inovasi.

Tiga kelompok terbaik akan dipilih berdasarkan penilaian terhadap kualitas poster, inovasi yang dikembangkan, kemampuan menganalisis data, dan keterampilan presentasi ilmiah.

Melalui kegiatan ini, Universitas OSO berharap dapat menumbuhkan minat generasi muda terhadap sains dan teknologi sekaligus menunjukkan bahwa solusi terhadap permasalahan lingkungan dapat dimulai dari eksperimen sederhana di lingkungan sekolah.

Dari air gambut, ampas kelapa, dan kreativitas siswa, COCOFILTER menjadi ruang belajar untuk melahirkan gagasan inovatif sekaligus menumbuhkan keberanian generasi muda untuk mulai berpikir sebagai peneliti.

Leave a Reply